Tujuh Pilar Pendidikan

TUJUH PILAR PENDIDIKAN

PAUD TERPADU MUTIARA YOGYAKARTA

  1. Pendekatan Keislaman Secara Integratif

Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum nasional, tidak berbeda dengan lembaga lain. Yang membedakan adalah pendekatannya. Semua materi dan kegiatan yang dilakukan berpusat pada nilai-nilai Islam secara integratif, sehingga tidak ada dikotomi, pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum. Dengan demikian terjadi proses internalisasi nilai keIslaman dalam setiap kegiatan anak.

  1. Berpusat Pada Anak.

Semua program kegiatan dirancang mengacu pada kebutuhan dan kondisi anak. Walaupun pelaksanaan kegiatan dilakukan secara klasikal, namun perhatian yang diberikan bersifat individu.

  1. Meliputi Seluruh Aspek Kepribadian.

Aspek yang dikembangkan bukan hanya kognitif saja. Melainkan seluruh aspek kepribadian anak. Bukan hanya kecerdasan intelektual saja (IQ), tapi juga pusat kecerdasan yang lain seperti kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual.

  1. Belajar Sambil Mencoba (Learning by doing)

Semua fasilitas dan setiap peristiwa disikapi sebagai sumber ilmu, dalam upaya memahami kebesaranNya. Hal ini didekati dengan praktik nyata, Anak mencoba dan merasakan secara langsung, sehingga terhindar dari pemahaman semu dan sebatas kognitif semata.

  1. Pembiasaan (Habbit Forming)

Pembentukan kepribadian yang positif dan tangguh memerlukan proses panjang. Tahap awal diperlukan latihan secara berulang dan terus menerus. Pengabaian terhadap aspek ini menimbulkan kepribadian yang pecah, yakni menyadari akan nilai kebajikan, namun tidak mampu mengamalkan karena tidak terbiasa.

  1. Keteladanan (Uswatun Hasanah)

Anak adalah peniru ulung. Dia akan menirukan segala yang dilihat dari orang  yang dikagumi. Orang tua adalah guru pertama dan utama, sedang  pendidik adalah guru kedua. Guru bukan sekedar sumber ilmu, melainkan sumber belajar secara menyeluruh. Untuk itu diperlukan guru yang mampu menjadi figur dan contoh tauladan bagi anak.

  1. Program Full Day

Sebagai konsekuensi dari konsep diatas, maka dibutuhkan rentang waktu yang lebih panjang (plus). Seperti konsep “praktik langsung” dan “pembiasaan”. Sebagai contoh, aktivitas ‘sholat’ dan ‘makan’, tidak cukup hanya teori saja, namun perlu dipraktikkan secara langsung dan dibiasakan setiap hari, sehingga berbentuk kebiasaan dan nilai positif yang menyatu dalam diri anak.